Home > Articles > Saatnya Perampingan Rupiah

Poll

What do you think about this site?
 

Visitor Statistic

JoomlaWatch Stats 1.2.7 by Matej Koval

Countries

56%INDONESIA INDONESIA
40.9%AUSTRALIA AUSTRALIA
1.2%UNITED STATES UNITED STATES
0.5%CANADA CANADA
0.3%JAPAN JAPAN

Visitors

Today: 1
Yesterday: 3
This week: 12
Last week: 10
This month: 63
Last month: 87
Total: 4790


Saatnya Perampingan Rupiah PDF Print E-mail
Artikel - Artikel Politik & Ekonomi

 

Memasuki resto atau cafe atau toko-toko tertentu di Jakarta, harga-harga barang dicantumkan tanpa angka ribuan. Penghilangan 3 angka nol itu ternyata tidak membingungkan atau menyesatkan customernya. Harga-harga yang tercantum jadi kelihatan rapi dan tidak menakutkan. Orang-orang asing yang sudah lama tinggal di Indonesia atau sudah mengenal Indonesia nampaknya lebih menyukai penyederhanaan atau perampingan penulisan rupiah, bahkan penyebutan angka-angka harga dengan menanggalkan bilangan ribuannya. Harga Rp100.000,- akan dicantumkan Rp100,- dan disebutkan 100, meski tentu saja dibayarkan dengan uang senilai Rp100.000,-.

 

Dalam berbagai macam publikasi atau laporan yang menyantumkan angka rupiah, hampir dapat dipastikan akan disederhanakan dalam ribuan, jutaan atau milaran. Lihatlah laporan keuangan perusahaan yang biasa diiklankan di surat kabar, tentu ada “pengecilan” penulisan angka rupiahnya. Apalagi Nota Keuangan dan RAPBN yang diajukan pemerintah yang sudah mendekati ribuan triliun rupiah, biasanya disampaikan/ditulis dalam bilangan jutaan rupiah. Dalam pembicaraan sehari-hari baik dikalangan atas maupun bawah, dipasar modern maupun tradisionil, di kota maupun di desa, hampir dapat dipastikan “budaya” meringkas atau menyederhanakan angka rupiah itu berlaku. Dalam wawancara dengan Menteri Perdagangan di pasar tradisionil, misalnya, para pedagang akan menyebutkan 8,5 untuk 8500 atau 10 untuk harga 10.000, dan lawan bicaranya itu tentu mengerti apa atau berapa yang sebenarnya dimaksud. Tetapi ketika bilangan yang sama disebutkan oleh pedagang sepeda motor, tentu 8,5 berarti Rp8.500.000,- alias dalam jutaan. Praktek yang lazim ini praktis hanya berlaku bila berkaitan dengan penyebutan atau penulisan rupiah. Seseorang tidak akan menyebutkan 10 untuk nomor rumah atau nomor surat 10.000 misalnya. Atau nomor penerbangan 2000 tidak akan disebutkan atau dikatakan 2 misalnya.

 

Nilai mata uang suatu negara yang terlalu rendah sehingga sangat berbeda jauh dengan nilai mata uang lainnya mengesankan “Ada yang salah dalam pengelolalaan ekonomi negara tersebut”. Nilai mata uang yang rendah selintas juga mengesankan harga barang dan jasa di negeri itu mahal, atau menimbulkan kesan amburadulnya ekonomi negara tersebut. Rasanya sulit membangun kepercayaan terhadap mata uang yang nilainya rendah atau jatuh. Rupiah yang berlaku sekarang ini sebenarnya sudah berlangsung sejak 1966 ketika pemerintah melakukan pemotongan uang Rp1000,- menjadi Rp1,- yang membuat masyarakat panik dan harus mengganti uang rupiah yang beredar dengan uang rupiah baru. Antrean penukaran uang terjadi dimana-mana dan pada saat itu barang apa saja dibeli bila bisa dibayar dengan uang lama.

 

Inflasi yang telah berlangsung lebih dari 40 tahun ini tentu telah menggerogoti nilai rupiah sehingga kini semua bilangan minimal dalam ribuan. Oleh karena itu sudah saatnya pemerintah dan Bank Indonesia menyederhanakan nilai rupiah mengikuti pola atau budaya yang sudah berlangsung mulus dimasyarakat selama ini. Dalam penerbitan/pengedaran uang baru sebagai pengganti uang yang telah beredar 5 tahun, Bank Indonesia menerbitkannya dalam bilangan baru yakni Rp100,- untuk Rp100.000,- atau Rp50,- untuk Rp50.000,-. Uang baru ini akan beredar bersama-sama dengan uang lama, jadi tidak ada kejutan atau kepanikan. Dalam jangka 5 tahun paling lama uang lama telah tersedot masuk kembali ke BI dan yang beredar tinggal uang baru. Dalam satu tahun pertama saja saya yakin masyarakat sudah terbiasa dan lebih menggunakan uang dengan nominal yang baru. Kurs rupiah terhadap dolarpun akan menjadi $1=Rp9,- misalnya, dan rupiah nampak lebih berwibawa atau bergengsi. Cara yang mulus ini sudah dipraktekkan di Turkey dan berhasil.

 

 

 

 

Bookmark & Share

Syndicate